Hari ini akan menjadi hari penuh tantangan. Bukit
Penyesalan yang sudah ku dengar jauh hari akan menjadi ujian berat untuk kaki
ku. Namanya terdengar begitu sangar yak. Yupi, begitulah dia, udah bikin gentar
para pendaki duluan. Apakah nantinya akan benar-benar membuat aku menyesal
ketika sedang berada diantara 7 Bukit Penyesalan ini ? Mari disimak duka lara
dan nikmat yang aku alami ya haha..
Dimulai dengan suasana pagi yang menyenangkan, nge
teh biar tubuh lebih panas. Walaupun cerah tapi hawa dingin masih berjaga-jaga.
Sarapan pagi ini spaghetti lagi, ehm quick cooking sih tapi kurang sehat juga
ya keseringan Spaghetti. Agak kurang kreatif sebenernya Mas Fikri sebagai
porter yang pengalaman menyajikan makanan untuk kami selama di gunung. Ya sudah
lah ya apa mau dikata, JANGAN CEREWET PAN DI GUNUNG INI !! :)
Soal fisik, faktor umur memang ga bisa dikibuli. 2
teman cowok ku yang masih kepala 2 jalannya cepat banget. Kontras banget dengan
aku, Yoan dan Happy yang sudah berkepala 3 *ahh ketauan d udah tuir nya hehe
tapi early thirty lho yaaa hehe. Kami bertiga terlihat kepayahan, trek nya
memang aduhai menyengsarakan teman..Sungguh-sungguh menguras tenaga. Menanjak
terus ga ada ampun. Ditambah lagi mataharinya Indonesia Timur ini baru jam 7an
aja udah kayak jam 12an sengatannya, jadi cepet capek.
Untungnya nih, dikala kepala capek menatap kedepan
trus menghadapi tanjakan demi tanjakan eh pas berbalik melirik ke belakang, ahh
keren banget pemandangan nya. Padang Savana dari Pos 1 ke Pos 3 yang kami
lewati kemarin terlihat indah bagaikan selimut ijo lereng pegunungan. Desa
Sembalun yang dipeluk sama bukit-bukit disekitarnya pun memenuhi mata. Sedangkan
di depan, ah Puncak Anjani gahar sekali tampangnya sambil memberi semangat
bahwa aku semakin dekat.
 |
Rinjani Pagi, Memerah disinari Sang Fajar |
 |
Pose dulu sebelum meninggalkan Pos 3 :) |
Di Gunung, senyuman dan sapaan hangat saling
menguatkan menjadi warna tersendiri di tiap langkah dan perjalanan. Banyak yang
mendaki, kami sering berpapasan dengan teman-teman dari Semarang. Kadang kami
mendahului, kadang kami di dahului dan ketemu lagi sedang istirahat mengatur
napas dan semangat.
 |
Cuaca Cerah Menemani Kami Melalui Bukit Penyesalan |
 |
Pos 2 dan Pos 3 di Tengah Padang Savana Sembalun |
 |
Istirahat...Bareng-Bareng Teman Pendaki dari Semarang |
Karena banyak yang mendaki, jalur pendakian jadi
banyak yang rusak dan bikin kita mudah terpeleset. Harus hati-hati karena jejak
kaki kesulitan mencari tapakan yang mantap, rumput or pijakan penyangga di trek
pendakian kebabat abis saking banyak yang lewat. Kadang kita mesti bergaya
merangkak ala spiderman di tengah tanjakan yang ekstrem biar ga terjungkal kebelakang
kalau terpleset.
 |
Menghibur Hati Merasa Puncak Rinjani Makin Dekat.... |
Oh ya trekking pole sangat berguna sekali lho. Aku
saranin kalau untuk trek Rinjani pakai trekking pole akan sangat membantu
sekali mengurangi tenaga yang terkuras. Suer d..you will say thank a lot to
that stick ;) Apalagi buat menjajal Bukit Penyesalan. Kamu akan butuh trekking
pole untuk bantu mengangkat beban body sehingga kerja nya lutut ga terlalu
berat.
 |
Yeahh, Untung Punya Trekking Pole yang Menolong Banget |
 |
My Friend in Crime, Yoan... |
Bukit-bukit ini pada PHP semua. Rasanya ga
berkesudahan tanjakan yang ada. Yang dipikiran kami kalau sudah melewati 5 bukit
tapi ternyata belum. Tongolan bukit terakhir seperti fatamorgana. Ketika sudah
diatas nya eh bukit berikutnya muncul lagi hahaa. Dikerjain abis. Kadang kami
bersikap bodoh sendiri untuk memotivasi diri. Sering bertanya ke Porter atau
pendaki lain yang sedang turun, apakah masih jauh. Jawabannya beragam
"masih 2 bukit lagi", "Udah ga jauh lagi, ayo semangat"
haha. Walaupun kami tau mereka hanya ingin menenangkan hati kami agar tetap
kuat dan tentunya ga kapok tengah jalan hehe.
 |
Bukit Penyesalan, Bukan Berarti di Ujung Bukit Sana adalah Bukit Terakhir, Itu Hanya Fatamorgana hehehe. |
 |
Salah Satu View Yang Bisa Dinikmati dari Ketinggian Bukit Penyesalan |
 |
Di Kejauhan Desa Sembalun Di Tengah-Tengah Bukit |
Cemara Gunung jadi peneduh kulit ditengah terik.
Tumbuh menjulang di sepanjang jalur Bukit Penyesalan, walaupun Cemara Gunung
nya ga rapat, maksudku masih ada space kosong dimana kita berjalan tanpa
peneduh pohon apapun, terbuka langsung disirami mentari hehe #Gosong. Kadang saking
lelahnya aku suka memeluk pohonnya sekedar menyenderkan tubuhku yg lagi
ngosh-ngoshan. Abis itu jadi lebih adem karena badanku yg panas ketemu dengan
body pohon yang sejuk. Sampe ada yang bilang cinta banget aku sama pohon Cemara
Gunung ampe sering dipeluk haha.
 |
Hahaha...Kelakuan Kami Tiduran Sebentar Dibawah Teduhnya Pepohonan :) |
Makin mendekati Plawangan Sembalun, raut wajah
tanjakan seperti angka 3 terbalik Dewi Anjani jelas banget kelihatan. Kalau aku
zoom dengan lensa ku juga kelihatan manusia-manusia yang sedang berjuang ntah
itu sedang naik atau sedang turun. Yang langsung kepikiran sama aku, itu apa ga
salah ya ekstrem banget treknya. Kalau dari bawah kelihatannya kecil banget
pijakan jalur setapak disana. Sudah gitu uda pasti kalau ampe terjatuh ke kiri
or kanan ga akan selamattttt…Seriuss !!! Aku langsung ciut…..Rasanya salut dan
angkat topi bagi mereka yang sudah berhasil sampai Puncak Rinjani.
 |
Eng Ing Eng..Trek Angka 3 Terbalik, Ini Kalau di Zoom Kelihatan Lho Orang-Orang Yang Masih di Atas Sana |
 |
Sudah diatas Awan :) |
Yuhuu Finally sampai juga di Plawangan Sembalun. Rame
boo, penuh tenda, uda kayak pengungsian. Kabut tebal dengan ceria menyambut
kami ini. Uda capek maksimal tapi hati seneng bisa push over the limit bisa
melewati tantangan Bukit Penyesalan. One step closer to reach the Top #halah
#gayabener. Yang menyenangkan awan-awan sudah dibawah kaki, Jauh dibawah kaki.
Betapa tingginya kami kan. Dan yang summit attack pun banyak yang baru turun.
Ahh aku kagum sama keberhasilan mereka #PerasaanWaktuItu.
 |
Wooo....Sampe di Plawangan Sembalun DiSambut Kabut Tebal |
 |
Dan Ketika Bisa Menikmati Moment "Diatas Awan" Seperti Ini...Lupa Segala Keluh Kesah Yang Sudah diLalui Tadi Siang hehehe... |
Camp ground di Plawangan Sembalun ga lebar tapi
memanjang. Jadi seperti kita berada di puncak bukit dengan view yang luas dan
kiri kanan camp ground nya adalah jurang. Di satu sisi kita bisa memandang
Puncak Rinjani dan di sisi satunya bisa memandang Danau Segara Anak. Cuma pas
nyampe Danaunya lg sombong, ngumpet dibalik kabut tebal :)
 |
Camp Plawangan Sembalun, Memanjang di Sepanjang Bukit, Kiri Viewnya Puncak Rinjani, Kanan Viewnya Danau Segara Anak. |
Mencoba tiduran di
dalam tenda ga bisa karena terlalu panas disoroti matahari langsung. Akhirnya memilih
tiduran diluar cari tempat yang teduh dengan beralaskan matras. Badan lelah
tapi ga bisa dibawa tidur padahal harus menabung tenaga buat summit attack jam
1 pagi. Jadinya cuma baringan sambil kapan lagi bisa tiduran ditiup similir
angin Rinjani sambil memandang guratan body dan puncaknya. Kadang deruan angin
nya bikin serem juga seakan badai mau datang, suaranya kenceng seperti suara
jet.
 |
Mencoba Nap Sebentar Dibelai Semilir Angin Sambil Menatap Puncak Rinjani :D |
Kebayang gimana mereka yang pernah berhadapan dengan
badai angin dan pasir di gunung ini. Biasanya itu terjadi pas muncak. Teman ku
juga pernah kena dan akhirnya harus merelakan diri tidak sampai ke titik
tertinggi. Siang dan sore cerah banget belum jaminan kalau malam hari cuaca
bersahabat. Di alam bebas, cuaca bisa mendadak berubah, hanya mengandalkan
nasib yang baik dan diijinkan berjodoh menapak di Puncak.
 |
Cantik ya...With Blue Sky and Clear Weather |
Dari 5 orang group ku, 2 teman ku memutuskan untuk
tidak ikutan muncak. Yoan memang ga pernah terobsesi berdiri sampe puncak. Dulu
ke Semeru juga doi lebih memilih menunggu di camp Kalimati ketimbang menantang
diri sampe puncak Mahameru. Dia selalu konsisten dan kekeh, susah banget merayu
dia untuk bisa muncak bareng haha. Kalau teman ku yang satu lagi, Happy, dia
agak phobia ketinggian hehe apalagi melihat trek angka 3 terbalik dari kejauhan
yang sempit dan langsung jurang kiri kanan membuat gentar siapapun apalagi buat
dia yang phobia ketinggian :) Jadi bisa dimaklumi alasan nya, mau dipaksa ikut
tar malah bikin repot wekekeke *peace Happy.
 |
 |
With Happy dan Ferdy... |
|
Menjelang sore dikala bingung juga mau ngapain ga
bisa tidur, ya sudah akhirnya memilih untuk keliling sambil menikmati sore.
Berfoto ria menjadi obat menghabiskan waktu menunggu malam didukung juga cuaca
cerah sepanjang waktu sampai sunset tiba. Perlahan-lahan juga Danau Segara Anak
pamer pesona, kabut yang tadinya tebal menyelimuti mulai tersibak. Punggung
bukit dengan semarak tenda warna warni diatasnya ditambah perpaduan hijau
rerumputan serta awan ada dibawah, perasaan langsung melow dan cocok bersandung
lagu "Negeri di Awan" nya Katon Bagaskara.
 |
Danau Segara Anak Perlahan-Lahan Terbuka Dari Kabut Yang Menyelimuti |
 |
Hello From Me, Guys... |
 |
Mencari Petunjuk hahaha... #gaya |
 |
Trek Turun Dari Plawangan Sembalun ke Danau Segara Anak |
Seneng banget liet pepaduan alam seperti ini.
Plawangan Sembalun menurutku base camp yang paling cantik. Banyak spot indah
yang membuat kita bersyukur bisa sampai di ketinggian ini. Bisa bersyukur masih
diberi kekuatan sampai setinggi dan sejauh ini, dan bersyukur masih bisa
menikmati tanah Indonesia yang indah ini. Jalur menurun menuju Danau
Segara Anak juga ternyata curam banget, sore ini kelihatan jelas trek nya dan
Besok siang kami akan melewati trek itu setelah turun dari Puncak. Bakal menjadi hari yang berat ya besok :) Ga berenti-renti mendaki dan menurun, begitulah pendaki seperti orang kurang kerjaan hahaha :p
 |
Makin Mendekati Malam, Kabut Mulai Menyingkir..Semoga Cuaca Bagus Ini Bertahan Terus Sampai Summit Attack Nanti Malam... |
 |
Coba Perhatikan Dengan Seksama, Tenda Warna Warni Yang Sedang Ngecamp di Pinggir Danau Segara Anak Kelihatan..Hayooo Mana?? |
Senja mulai melingkupi Plawangan Sembalun. Dari atas
sini Gunung Agung nan jauh di Bali pun bisa kelihatan lho. Cahaya keemasan
bercampur dengan birunya langit, pelan-pelan mulai mendominasi petang. Kami
mulai menunggu makan malam cepat tersaji dan kemudian mau cepat-cepat bisa
tidur. Tar mesti bangun lagi jam 11.30 malam untuk persiapan summit attack.
Moment yang paling klimaks dan paling ditunggu dari rangkaian perjalanan ini.
 |
Sunset Time - Rinjani |
 |
Gunung Agung - Bali Yang Kelihatan Puncak nya Dari Plawangan Sembalun |
Walaupun kami juga masih menggantung asa dan berharap penuh kalau Tuhan
memberkati dan mengijinkan mata dan kaki kami berdiri di Puncak. Hi Angin dan
Alam, be nice yaaaa. Sebelum tidur aku mencoba mengintip langit..Cuaca cerah
dengan ribuan taburan bintang bersinar. Yes, mendukung harapan akan niat untuk
bisa sampai di Puncakk...Goodnight Universe...zzzzzzz
Tidak ada komentar:
Posting Komentar